14/08/15

(6) Teman Tapi Mesra?

Satu Bulan Berlalu....

Anton masih tetap di seberang sana, skripsinya udah beres dari dua minggu yang lalu. Soft file dikirim lewat e-mail, dan setiap malam kita tidak lagi membicarakan dia disana gimana dan gue disini gimana.

Ada pembahasan yang baru, skripsi, skripsi yang dia gue bikin atas nama dia, setiap malam gue tes kemampuannya untuk memahami skripsinya. Kalo gue yang jadi dosen pembimbingnya bakal gue suruh bikin ulang deh, karena tau itu bukan karyanya, hehe.

Tapi karena gue teman yang baik dan sangat mengerti kemampuan otak dia sampai dimana, jadi apa yang gue kasih dia langsung faham dan gak butuh waktu banyak untuk revisi cuman karena dia gak faham.

Perdebatan setiap malam soal bahan skripsinya, ya gue bisa sampai berantem kalo ngobrolin soal tugas, apalagi skripsi bukan hal yang main-main.

Anton termasuk anak yang enak untuk diajak ngobrol soal apapun, ketika dia serius semua yang diucapkan tidak pernah main-main dan selalu ada solusi, tapi kalo dia mulai bercanda maka jangan pernah berharap apa yang dia ucapkan itu bener, karena gue bisa pastikan 90 persen bohong dan 10 persennya hanya dia dan tuhan yang tahu.

"Cape ah, ngomong bener terus dari tadi."

Anton mulai mengalihkan pembicaraan, ya, udah satu minggu ini kita gak bercanda dan selalu serius. Kita mulai menutup obrolan tentang skripsi, dan kita anggap semua selesai dan kita siap menghadapi sidang yang tinggal empat bulan lagi.

"Eh lu tau gak?"

"Apa?"

"Gue lagi nyuekin si Lestari."

"Lah, kenapa emangnya?" ini pertama kalinya gue benar-benar merasa kepo, mungkin karena ini pertama kalinya juga dia mau membuka pembicaraan duluan tentang Lestari.

"Pokoknya ya, rasa nyaman gue udah ilang aja sama dia, dia mulai banyak nuntut, sementara lu taulah gue kayak gimana."

"Ya, lu cuek kayak bebek."

"Haha..."

Anton pun akhirnya mulai menceritakan hal yang berbau pribadi, untuk pertama kalinya dia menceritakan tentang si Lestari, dari awal pertemuan mereka hingga hal-hal detail yang bikin dia tertarik ke Lestari dan hal yang dia gak suka dari sosok ceweknya itu.

Dan untuk pertama kali juga gue merasa tertarik dengan obrolan ini, bukan bermaksud untuk mencampuri kehidupan dia cuman gue ngerasa Anton lagi perlu teman yang untuk mendengarkan. Dan ada beberapa nada yang terdengar bercanda, tak lagi seius. Disanalah gue mulai binggung apa yang dia lagi serius atau bercanda.

Tak terasa dua jam dia cerita sana-sini, hingga sampai dititik dia bilang "Gue mau udahan."

Saat dia bilang gitu gue binggung harus merespon seperti apa. "Gue mau ngelamar seorang gadis yang gue kenal beberapa tahun terakhir," dia melanjutkan, jujur ada rasa sedih sekaligus kecewa saat mendengarnya, siapakah gadis itu? apa gadis yang penah dia ceritakan dulu? gadis Cianjur yang bikin dia terpesona sehingga dia rela bulak-balik Bandung-Cianjur kalo libur.

Ya, dulu dia pernah bilang "Cek, gue kalo libur ke Cianjur terus, lu kapan-kapan ikut ya, gue kenalin," dia yang lebih rela ngabisin liburannya di Cianjur ketimbang pulang ke Jakarta bertemu keluarganya.

Setiap dia bilang Cianjur, gue ngerasa cemburu, entah karena dia udah gak punya waktu main sama gue atau sebenarnya ada hal lain yang gue rasain? gue masih belum bisa menjawabnya.

"Bukan si Lestari yang mau lu lamar?"

"Bukan, ada gadis lain sebenarnya, jauh sebelum gue kenal si Lestari."

"Siapa?" nada gue semakin kepo dan sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.

"Haha, sejak kapan lu kepo?"

"Yaudah."

"Ah, mulai deh lu cuman respon, yaudah, ok, terus, terserah, gak papa. Bete tau gak kalo lu udah respon kayak gitu."

Entah kenapa gue ngerasa mulai sedikit emosi, dan akhirnya memilih untuk mengakhiri obrolan malam ini.


Bersambung....

12/08/15

(5) Teman Tapi Mesra?

"Cek, gue udah di Papua."

"Oh, mulai kerjanya besok?"

"Iya."

"Yaudah, lu istirahat aja, besok pagi sebelum berangkat survei whatsapp gue ya."

***

 

Aneh, tak seperti tahun-tahun sebelumnya, ada perasaan kosong, kegelisahan, dan rindu yang mengebu-gebu. Dia telah pergi. Pergi untuk kembali. Tapi...

Berteman dengan Anton hampir empat tahun, namun baru kali ada perasaan yang aneh saat dia gak ada disamping gue. Entahlah.

Seminggu berlalu, Anton setiap malam selalu memberikan kabar, tepatnya pukul 22.00 WIB. Ya, dia mulai ke lapangan sekitar pukul 05.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB, input data sekitar 10-20 menit, tergantung bahan yang dia temui selama di jalan.

Dia selalu bercerita seputar GPS, lokasi pemandangan yang di deskripsikan dengan detail, ada rawa, pohon bakau, padang rumput, hewan-hewan liar yang dia temui saat menelusuri hutan, cuacanya yang panas, karakter dari setiap suku, lokasi dimana dia tinggal, hingga karakter dari setiap teman-temannya yang tergabung satu tim.

"Cek, lu tau gak, koordinator gue ditawarin nikah sama orang sini loh, haha."

"Terus, lu ditawarin juga gak?"

"Ya kagak lah, lagi pula kalo ditawarin juga gue bakal nunjukin foto seorang perempuan sambil berkata 'dialah calon istriku'."

"Deuh, so iye, paling lu langsung diusir. Haha," jawab gue yang sebenarnya entah kenapa kurang suka mendengarnya.

Semenjak Anton pacaran sama Lestari, dia lebih sering cuek atau bahkan gak peduli. Beberapa kali Lestari nangis dan mengadu ke gue karena hal-hal yang dilakuin Anton. Dibentak, diceukin, atau cemburu karena Anton lebih milih gue buat nemenin dia beli buku daripada ceweknya.

"Lu kenapa nelpon gue terus sih? Lu gak nelpon cewek lu?"

"Udah tadi siang, dia kan gak pernah begadang kayak lu."

"Lu bilang lagi dimana?"

"Lagi main dan dia marah."

Gue hanya bisa tertawa kecil saat mendengar ceritanya, Anton jarang sekali cerita tentang Lestari ke gue, padahal gue suka ingin kepo, tapi gue sadar gak bisa maksa orang dan memaksa bukan sifat gue.

"Eh lu kangen gak sama gue?"

"Kagak."

Anton setiap menelpon selalu nanya gue kangen apa enggak ke dia, pertanyaan yang oon sebenarnya, karena temen mana yang gak kangen sama temen deketnya, apalagi kalo tiap hari ketemu dan tiba-tiba harus ngilang selama tiga bulan.

Tapi gue selalu gengsi untuk bilang kangen. Jadi, ada beberapa hal yang gue manipulasi dengan gaya cuek gue. Beberapa kalimat yang dia ceritakan hanya gue respon dengan kata "yaudah" atau "terserah" dan kalimat itu selalu berhasil bikin dia kesal, tapi anehnya dia lagi-lagi cerita, padahal gue gak pernah nyuruh.

Ya, Anton sosok cowok yang bawel dan hobi banget cerita, gue? sebaliknya, lebih seneng mendengarkan dan memperhatikan orang lain ngobrol.

"Giliran lu dong yang cerita, dari kemarin gue melulu."

"Gue cuman lagi sibuk kuliah dan ngurus dua skripsi."

"Terus?"

"Ya gak terus-terus, mendingan lu lagi yang cerita hari ini kerjaannya gimana? ada yang menarik gak?"

"Tau ah, bete, lu gak mau cerita."

Dan obrolan selalu berakhir selalu tidak enak, karena dia keburu bete. Tapi kita aja, besok malem dia bakalan nelpon gue lagi. Bukan so kepedean, tapi itu yang selalu terjadi sejak empat tahun yang lalu.



Bersambung..............

11/08/15

(4) Teman Tapi Mesra?

Babak baru kehidupan gue Anton masih berlanjut, kali ini, gue yang merasa kehilangan dirinya. Anton pergi.

***

Kehidupan di kampus hampir berakhir, gue dan Anton saat ini mulai disibukan dengan 'skrip-shit' sebenarnya kerangka yang gue punya udah untuk menyusun skripsi udah ada, tinggal masukin data-datanya aja. Tapi, saat ini fokus gue mulai teralihkan gara-gara sikap bodoh si Anton.

"Njir, lu serius? ah elu, bercanda kali ini gak lucu."

"Gue serius Cek, gue mau cabut"

"Kemana? terus skripsi lu?"

"Tolong kerjain ya sama lu, nanti gue bayar deh, terserah lu minta apa aja gue kasih," nadanya emang tak terdengar bercanda, tapi raut wajahnya yang datar selalu berhasil bikin gue bingung. Secara, dia kalo ngomong serius atau bercanda gak ada ekspresinya.

"Ogah! Kerjain sendiri."

Anton pun langsung menunjukan beberapa e-mail yang dikirim ke dia dari sebuah perusahaan survei ternama yang ada di Jakarta.

"Gak, gue gak setuju. Kalo prediksinya meleset gimana? pas lu bimbingan buat skripsi gimana? parahnya kalo lu belum balik pas waktunya sidang gimana?"

Lagi-lagi Anton mengeluarkan jurusnya, memelas, dan kali ini gue gak mempan dengan jurusnya. Tak mau menyerah, Anton kembali menjelaskan tugasnya dia yang hampir tiga bulan. Sebenarnya, gue udah faham, karena dia udah melakoni pekerjaan ini sejak awal ngampus, atau lebih tepatnya sejak pertama kali gue kenal dia.

"Cek, gak nyampe tiga bulan kok yang ini, karena tim-nya hampir 100 orang dari seluruh Indonesia, ini kesempatan emas!"

"Okey, dalam waktu tiga bulan lu gak balik ke Bandung jangan harap masih bisa jadi temen gue," akhirnya gue menyerah.

"Siap kapten, sidang masih 5 bulan lagi, dan gue bakal balik 3 bulan lagi, dan lu orang pertama yang gue temuin."

Anton bekerja dengan beberapa perusahaan survei ternama di Jakarta, setahun dua kali dia pasti ke luar kota untuk survei. Terkadang dalam satu tahun dia bisa tiga kali, dan sekali survei bisa 1-3 bulan, tergantung tempatnya. Lalu kuliahnya? dia hampir di DO (Drop Out)!

Karena pernah gak masuk selama 3 bulan, tapi tugas masuk semua? siapa lagi kalo bukan gue yang ngerjain, jadi faham kan kenapa anak-anak suka sirik banget sama dia? karena dia punya temen sebaik dan sehebat gue, haha... (narsis dikit)

Untungnya lagi, otaknya dia agak pinter dan houmble ke siapa aja, termasuk cenderung yang dekat dengan dekan. Curang!!

Dan selama ini, dia nyimpen semua duitnya di atm gue. Dikira gue emaknya kali ya, yang ngurus keuangannya, udah ngurus tugas dia, ngurus kalo dia mau berangkat, ngurus apapun yang berkaitan dengan dia deh, jadi wajar kalo Lestari (pacarnya) cemburu banget ke gue. Soalnya, si Anton gak pernah cerita hal ini ke pacarnya atau ke keluarganya, cuman ke gue.

Kalo diitung-itung ya, udah ada Rp200 juta lebih duitnya di ATM gue, dan dia selalu bilang. "Kalo lu perlu pake aja duitnya," enak banget kan? ya iyalah, secara gue udah kayak babunya.

"Cek, lu tau gak survei yang sekarang gue kemana?"

"Papua?"

"Kok tahu?"

"OOn ih, waktu lu kasih liat e-mail ke gue kan dibaca, gak cuman gue liatin doang?"

"Haha, iya yah..Lu tau gak bayarannya sekarang berapa?"

"Berapa?" gak ada nada antusias sama sekali, karena sebenarnya gue juga gak peduli.

"Rp30 juta per bulan dan kali tiga Rp90 juta, cek!"

"Oh"

"Cuman oh?"

ft: www.flickr.com
"Gue heran ya, duit lu udah banyak dari kerjaan lu kayak gini, terus tiap minggu lu juga masih dapet kiriman dari bokap-nyokap lu di Jakarta dan dikirimnya ke rekening gue juga. Sebenernya, apa sih yang lu cari?"

"Gak tahu, gue seneng jalan-jalannya aja sih, bukan karena duitnya,"

"Terus duit sebanyak ini buat apa? lu belum nikah, kebutuhan lu juga dikit, selama ini yang gue liat lu cuman makan di warteg dan beli buku sama gue, baju lusuh, jarang mandi, kosan yang super murah dan sempit, lu juga jarang jajan ya paling rokok doang,"

"Buat modal nikahin elu"

"Bercanda lu kali ini garing! Gue serius, lu mau nikahin si Lestari kapan?"

"Yaudah kalo gak percaya. Gak tau, gue gak mau nikah cepet-cepet, gue belum keliling Eropa."

"Ajaklah si Lestari, dia pasti seneng,"

"Gak mau, mendingan gue ajak elu."

Perbincangan gue masih berlanjut hingga pukul 19.00 WIB, di kedai langganan gue dan dia. Pemilik kedainya pun sudah tak heran lagi kalo tiap sore bahkan sampai kedai tutup gue sama Anton selalu disana, mulai dari ngerjain tugas, sampai hanya sekedar mengobrol. Tempat duduknya pun selalu sama.

Perbincangan hari terakhir sebelum dia pergi ke Papua untuk melakukan survei.

"Kabarin gue terus ya, jaga kesehatan, hati-hati input datanya jangan sampai salah biar lu gak kerja dua kali," mata gue entah kenapa kali ini mendung, ada perasaan gak rela saat memberi tasnya dia yang sudah gue rapihkan berbagai keperluannya.

Bersambung...............

06/08/15

(3) Teman Tapi Mesra?

SIAPA yang ingin aku salahkan sebenarnuya? Semua yang berlalu begitu saja, semua, semua seakan memiliki magnet untuk meluapkan segala hal yang tidak bisa dikendalikan oleh logika.

"Gue gak punya kesempatan."

"Sotoi!"

*****

Masih dalam edisi aku mendiamkannya, menjaga jarak, menjaga hal-hal yang memungkinkan perasaan ini berkembang biak dari nalar yang tak terduga. Perasaan yang terkoyak dengan hal-hal sepele namun  bisa membuat hati sedikit berguncang.

"Heh Mony, jelasin ke gue yang sebenarnya!"

"Apa yang harus gue jelasin Nton? Apa?" Nadaku tiba-tiba naik satu oktaf dari nada biasanya, ada perasaan marah, namun gak bisa terlampiaskan. Karena gue bukan tipe yang mudah meledakan emosi, ibarat bom waktu, itulah gue.

"Gue mohon, jangan tinggalin gue," nada Anton tiba-tiba melemah dari nada sebelumnya, ada nada permintaan di dalamnya, ada nada sedikit memelas yang terbaut dengan kesedihan.

Gue gak bakal ninggalin elu, Anton. Gak bakal. Tapi seakan gue susah buat meluapkannya, padahal apa susahnya bilang "ok" atau hanya sekedar bilang "iya" untuk mengakhiri masa pendiaman gue.

Disisi lain, sikap Dony semakin tidak membuat nyaman, setiap hari selalu berantem dengannya karena hal-hal sepele. Bukan lagi soal dia cemburu, tapi lebih dari itu, dia mulai mengengkang gerak-gerik gue, pertemanan, kuliah, hingga kerja part-time gue yang terus dipantau.

Setiap hari, 3x sehari dia nelpon, ibarat seorang dokter yang selalu mengingatkan untuk makan. Gue emang paling susah makan, karena lebih sering lupa buat makan dan minum. Tapi si Anton juga melakukan hal yang sama ke gue, dengan cara yang berbeda. Ya, cara Anton bikin gue nyaman, berbanding terbalik dengan caranya Dony.

Tak seharusnya gue membandingkan mereka, jelas mereka berbeda, Dony kekasih gue dan Anton? Dia teman dekat gue, ya teman dekat sejak 3 tahun ini. Teman yang selalu jadi sandaran gue disaat gue senang atau sedih.

"Gue kangen elu, Mony"

Langkah pun terhenti. Mencoba memberanikan diri untuk membalikan badan dan kembali menatap wajah manis Anton, ya Anton pria yang cukup manis dengan kulit coklat, mata belo, pipi tirus, dan hidungnya pun mancung.

"Tumben lu manggil gue Mony, biasanya pesek, atau cuman cek doang."

Anton kembali tersenyum, raut wajah kesedihan perlahan hilang, dan entah kenapa gue senang melihatnya. "Jangan kayak gini lagi ya cek, gue gak bisa hidup tanpa lu"

"Haha, lebay!"

Gue mencoba untuk kembali dekat dengannya, seakan kejadian beberapa ini tak pernah terjadi. Anton pasti faham sama apa yang gue lakuin kemarin, toh dia gak pernah nanya lagi alasan kenapa gue ngejauhinnya. Lagi pula, gue gak bisa menjawab kalo dia nanya.

Bersambung.......

04/08/15

(2) Teman Tapi Mesra?

Ilustrasi
"Mony, lu pacaran ya sama si Anton?"

"HAH? Pacaran apaan sih? Kagaklah, gue kan punya si Doni, nah si Anton punya si Lestari," sangkal gue dengan cepat.

Bukan kali pertamanya gue dan Anton ditanya seperti itu, respon yang sama selalu gue berikan, mencoba untuk menyangkal, bukan mencoba sih lebih tepatnya, tapi mengklarifikasi hal-hal yang semakin tidak mengenakan suasana di kelas kami.

****

"Woi pesek, lu kenapa sih?" Sapanya sambil neken hidung gue yang udah dempes makin bikin sesak nafas.

"Eungap goblok.. Dah, tau idung gue cuman segini."

Anton pun hanya tertawa terbahak-bahak kerap kali bercanda akan hal yang serupa tiap harinya. Ya, Anton sosok yang jarang sekali untuk serius, dia lebih banyak bercanda dan tertawa dengan siapa pun, gue sebaliknya, lebih serius dan jarang bercanda.

Tapi, yang diheran gue kok bisa temenan sama makhluk aneh kayak dia sampai 3 tahun, hmm... Hanya tuhan yang faham. Haha

Beberapa hari ini gue sedang menjauhinya, bukan karena alasan sudah tak ingin berteman dengannya, tapi lebih ke............ (Tiba-tiba gue mikir apa maksud gue sebenernya ngejauhin dia)

Alasan awalnya sih karena gak mau ada gosip yang terlalu heboh lagi, ditambah lagi dengan si Lestari yang selalu cemburu ke gue, Doni juga sama, dia cemburu ke Anton.

"Cek (pecek alias pesek, bisa juga diartikan ncek karena mata gue sipit dan gue keturunan Cina) gue kok ngerasa elu lagi ngejauhin gue ya? Hehe. Atau cuman perasaan gue aja kali ya?"

"Ah, itu hanya perasaan nak Anton saja," timpalku dengan nada yang dibuat seperti orang Jawa.

"Gue serius cek, gue punya salah ya ke elu?"

"Kagak."

"Ya terus kenapa lu sikapnya beda?"

Anton 'kekeuh' minta penjelasan akan sikap gue tiba-tiba berubah, sebenarnya gue sendiri binggung harus ngejelasin apa. Kalo gue bilang karena pacar kita cemburu, itu udah pernah dibahas sebelumnya, kalo karena temen-temen kelas yang risih itu juga pernah dibahas, kalo gue yang risih? Tapi gue risih karena apa? Karena keluarga kta? Tapi keluarga gue sama keluarga Anton bahkan sangat akur, lalu karena apa? Apa karena gue udah mulai ngerasa ada hal lain, bukan hanya sekedar pertemanan, tapi lebih dari itu...


Bersambung........

03/08/15

(1) Teman Tapi Mesra?



"DIAM!" Seorang pria tengah beradu argumen dengan beberapa orang. Entah ingin mererai ataupun ingin memulainya.


****

TAK pernah kah terfikirkan bahwa aku benar-benar menjadi sangat takut kehilanganmu?

"Jika aku pergi jangan pernah memintaku untuk kembali lagi, hanya aku yang boleh menentukan akan kembali atau tidak."

Bukankah, ucapannya terdengar sangat egois? Bukankah kita tidak bisa meminta 'hati' ingin memilih kesiapa harusnya dia berada.

"Kenapa bisa sedekat ini? Siapa yang memulai?"

Aku tak bisa menjawab, karena memang tidak faham. Bukan aku yang memilih, bukan juga kamu, bukan kita, tapi siapa? Tuhan. Pantaskah aku menyalahkan tuhan? Tak murka kah dia jika aku menyalahkannya? Tapi... Jika aku tak menyalahkan, maka siapa yang harus aku salahkan?

Hari demi hari, hubunganku dengannya kian dekat, meskipun kita seringkali bertengkar hebat dan tak jarang saling diam. Namun, selama ini yang 'memperbaiki' hubungan selalu aku. Lelah, iya.

Malam itu, aku dan dia jalan. Bandung. Kita keliling kota, mencari makanan, memperhatikan orang-orang yang sedang berlalu lalang, menebak-nebak isi kepala mereka, tak jarang aku dan dia tiba-tiba tertawa, membicarakan hal yang sebenarnya tidak kita ketahui sama sekali.

Ilustrasi
Aku terlalu sama dengannya, sifat dan karakternya, hanya saja, usia kita terlampau tiga tahun. Ya, aku lebih muda dari dia. Namun, jika sedang mengobrol aku tak merasa ada jarak usia. Aku, aku, merasa ingin selalu bersamanya.

Kebahagiaan aku dan kebahagiaan dia juga. Terlihat jelas dia sangat nyaman saat berada disampingku, tertawa, bercerita, hingga memeluk layaknya 'teman' yang sudah dekat. Aku dan dia sudah lebih dari teman. Aku dan dia sudah lebih dari teman. Aku dan dia sudah lebih, lebih, dan lebih.

Hingga pada suatu hari semua berubah 180 derajat. Dia berubah. Aku kehilangan sosoknya, aku kehilangan jantungnya, dan aku kehilangan aroma tubuhnya. Aroma tubuh yang setiap malam aku cium, jantung yang tiap malam aku dengarkan detaknya, sosok yang selalu aku pandang sepanjang malam.

Bersambung……

16/04/15

CEBAN (Cianjur Epic Banget)

Yuk kita bangun ekosistem film Cianjur!

FROM CIANJUR FOR INDONESIA
Cianjur Jendela Wisata Dunia

BANYAK yang bertanya 'Apa Itu Ceban?' CEBAN adalah singkatan dari Cianjur Epic Banget. Masih belum ngerti? yuk simak penjelasannya dibawah ini!

Cianjur Epic Banget (Ceban) merupakan sebuah ide yang diproklamorkan (duh kayak bung hatta aja) oleh seorang pria yang cukup tampan yang mirip chines, haha. Ok ini serius, namanya Fahri Rizky Hamdani, ah ribet, panggil aja Cheko.

Beberapa waktu lalu, saya bertemu Cheko di Cianjur Creative Forum (CCF) Foundation, mau tau alamatnya? di Jalan KH Hasyim Asyari no 12, Warujajar-Cianjur. Awalnya kita lagi ngebahas seputar pembuatan City ID (doang) tapi.... setelah minggu depan ketemu lagi tiba-tiba dia berkata "Bikin program Ceban yuk?"

What? ceban? duit sepuluh ribu dibuat film? fikir aku saat itu. Cheko langsung ngejelasin, Cianjur Epic yang akan kita jelaskan dalam 20 produksi film tentang Cianjur.

Saat itu aku lagi mikir. "Hah, 20 Film? Gak terlalu sedikit (gak kebanyakan maksudnya)"

"Gini gini (ujarnya yang seolah-olah tau kalo otak aku masih belum faham) kita ajak 10 ribu orang baik yang berdomisili di Cianjur maupun di luar Cianjur untuk menjadi co-Produser (co-pro) dalam film ini,"

Otak aku masih mikir, nah cara pendaftaran yang menjadi co-Pro dan danannya untuk 20 film itu gimana? fungsi dari 10 ribu orang yang ikut jadi co-Pro itu apa?

"Setiap orang yang ingin menjadi co-Pro itu wajib nyumbang ceban (bisa lebih ngasihnya dan tetap kita catat jumlah yang didonasikan, sumpah gak akan dikorupsi lho, hehe), dan dananya akan kita tampung selama tiga bulan untuk pembiayaan produksi film ini"

Lalu keuntungannya? nah, co-Pro yang menjadi bagian dari film ini berhak untuk nonton screening 20 film itu. Setiap akhir pekan kita akan terus meng-upgrade perkembangan lewat e-mail yang dikirim oleh yang menyumbang. Jadi, bagi yang ingin menjadi co-Pro wajib cantumin nama, no hape, dan nama e-mailnya. Biar sekalian mengawal perkembangan film ini.

Kita bekerja sama dengan Kampung Film Cianjur untuk membantu pembuatan film ini. Kita gak main-main dalam pembuatan film ini!!

Karena tujuan kita, ingin menggali potensi anak muda di Kabupaten Cianjur dengan sangat maksimal. Cianjur bukan lagi kota mati yang hanya sebagai perlintasan dari Jakarta ke Bandung saja (udah ada jalan tol Cipularang, hihi) Cianjur menjadi daerah dengan tujuan pariwisata.

Ingat akan pilar NGAOS-MAMAOS-MAENPO? Nah, program Ceban ini akan menggali secara maksimal akan ketiga pilar itu.

Akhir tahun di-Screening didepan 10.000 warga Cianjur. Kita bikin petisi bersama untuk Ngaos-Mamaos-Maenpo agar suatu saat pada Ilustrasi gambar pecahan uang 10.000 rupiah nama Cianjur akan selalu diingat.

Hanya ceban, dan kalian bisa menikmati indahnya Cianjur secara lebih dalam. Yuk udunan, cuman ceban.(penanida)

INFO co-Pro:
Whatsapp: 082216885200 (nida)
E-mail: kampungchannel@gmail.com
Join Grup Facebook: CEBAN (cianjur Epic Banget)
Twitter: @kampungfilms


08/04/15

Cinta Setengah Musim


“Sayang, giornata perdana musim ini kamu nonton di kota aku ya. Aku jemput di terminal nanti, ongkosnya aku transfer,”

MENJALIN kisah baru satu bulan. Emosi ‘cinta’ yang sangat menggebu-gebu. Cinta tidak membuat orang lupa diri, namun terkadang itu bisa bikin yang merasakannya lupa akan beberapa hal. 

Pergi ke luar kota demi menonton bola. Karena jika tidak seperti itu, aku sama dia mustahil bisa ketemu. Kesibukan kita berdua pun kadang membuat lupa bahwa sudah tiga hari tidak berkomunikasi. Entah lewat whatsapp, bbm, sms, apalagi telepon.

Hal itu terus terjadi hingga akhirnya aku mulai merasakan sesuatu yang sangat ganjal. “Kamu kemana saja? Sudah seminggu gak ngabarin” pesan singkatku lewat whatsapp. Aplikasi yang paling sering aku gunakan dibandingkan dengan medsos lainnya.

Harryxa Briantra. Nama yang berhasil membuatku jatuh cinta. Entah bagaimana caranya, awalnya hanya sebagai pelampiasan karena sudah hampir satu tahun menjomblo. Dia pun saat aku tanya “Kenapa nembak aku?” dia hanya tersenyum “Gak tau. Aku jomblo dan kamu pun gitu. Saat itu, yang lagi deket sama aku cuman kamu, gak tau kenapa saat pertama kali ketemu disana aku sering banget liat kamu. Kamu gak tau deh lagi ngobrol sama siapa”

Gak lama kemudian dari perjumpaan itu, aku dan dia saling berkomunikasi jauh lebih intens dari biasanya. Pernah mendengar kata “bermula dari candaan kini menjadi serius” ya, itu yang kita rasakan. Seakan lupa dengan proses yang singkat itu.

Banyak janji manis yang membuatku ‘lupa’ pernah sakit karena janji manis yang diberikan oleh seseorang. Dia juga memiliki banyak janji manis, layaknya laki-laki pada umumnya. Lalu, aku kembali terjebak. 

“Kapan ya ada pertandingan bola lagi? Gak sabar buat ketemu kamu dan kita chant (semacam yel-yel mendukung tim yang sedang bermain) bareng lagi” Pesan yang kubaca berulang kali setelah hampir dua giornata (match) tidak berkomunikasi, terlebih lagi saat itu di komunitas bola kami sedang tidak ada even nonton bareng se-Jabar Banten ataupun se-Jabodetabek.

Kata-kata yang cuman segitu tapi bikin hati berbunga-bunga. Gila? Emang pada saat itu aku seperti orang gila. Hingga akhirnya saat setengah musim itu hampir berakhir. “Jane, lu gue kasih tau ya. Elu gak bakal dinikahin sama si Harry! Percaya deh sama gue” sebuah kalimat yang bikin down dari kerabatnya meskipun dengan nada tertawa.

Meskipun aku menanggapinya dengan candaan lagi, tapi tetap saja aku memikirkan ucap itu. 

Sampai akhirnya ada beberapa hal yang bikin hati terasa asin. Dia gak ngabarin aku lebih dari tiga giornata. Namun, di twitter sangat aktif. Mungkin dia mulai bosan, fikirku.

Sampai akhirnya ada sebuah konflik yang bikin aku sangat marah dan memintanya untuk mengakhiri semuanya. Lalu, beberapa minggu setelahnya aku mendapatkan kabar bahwa Harryxa telah bertunangan dengan wanita lain dan akan segera menikah.(*)

#FiksiBuatPacarku

=====
Note: Kata mimin #KampusFiksi harus curhat aslinya :p

Intinya si cowok ini orangnya sangat dingin, lebih dingin dari es. Bagaikan wikipedia sepakbola, mau tanya sepakbola liga mana saja dia faham. Kebetulan kita bertemu disalah satu komunitas sepakbola liga italia dari salah satu tim yang saya enggan untuk menyebutkan nama klub kebanggan saya disini. Hehe

Kita ketemu gak selalu pas even nonbar aja sih, beberapa kali kita ketemu di luar acara even bola. Dia suka lupa sama hape jadi komunikasi kita jarang karena 30 persen karena sibuk kerja dan sisanya ya gitu deh, dia suka ngilang kayak kapal air asia, hihi.

Kita berkenalan di salah satu grup pengurus se-Nusantara komunitas itu, awalnya cuman bercanda dan gak ada perasaan sama sekali tapi ternyata kita atau lebih tepatnya aku mulai tertarik sama karakternya yang sedikit berbeda. Hingga akhirnya di salah satu acara Ghatering se-Jabar Banten di salah satu kota pertemuan pertama kali.

Sekarang kisah aku dan dia sudah berakhir. Cerita ini banyak bumbu-bumbu fiksinya, jadi jangan terlalu serius ya. Hihihi....

22/01/15

Berlari di Tengah Asa

"Dalam pelukanku, dengarlah suara jantung beserta detaknya. Setiap detik yang selalu ku berikan untuk mendoakan mu. Hingga kamu tak mampu lagi mendengarnya, karena aku sudah bersama tuhan."

DISUATU sore yang cerah, sepasang sahabat sedang saling mengejar. "Rico lu beresek ya," teriak Mony sambil mengejarnya dengan tertawa lepas. "Udah ah ampun, gue cape, kita gak sekuat waktu masih kecil," timbal Rico sambil mengelap keringat dengan punggung tangan kirinya.

"Ih, dasar tua. Gue sih masih muda," timbal Mony yang tidak ingin kalah
"Sialan lu. Udah sini, duduk di samping gue"

15 tahun persahabatan mereka terjalin. "Tidak terasa waktu terus berjalan dan sudah 15 tahun nih kita kenal," ujar Mony sambil menyandarkan kepalanya di bahu Rico. Hanya tipis yang diberikan jika setiap tahunnya mereka 'bernostalgia' ke tempat yang menjadi sejarah awal pertemuan mereka.

andai ..
ku tak membuang dirimu
menjadikan yang kedua
atas cintaku
janganlah
keterpurukanku ini
membuat kau membenciku
selamanya .. dan membunuhku
Gigi - Andai

Lagu pertama yang mereka nanyikan bersama di tempat tersebut. Setiap kali menanyanyikan lagu itu, bukan 'kisah sedih' mereka yang teringat, namun hal-hal konyol yang mereka lakukan saat bersama.

"Gila ya, dulu apa yang gue pikirin bisa sampai nanya sama lu, bahkan berteman sampai sekarang," celoteh Mony dengan tawa kecilnya.

Lagi-lagi Rico hanya tersenyum berserta tarikan hembusan nafas panjang.

Tak kusesali cintaku untukmu
meskipun dirimu tak nyata untukku
sejak pertama kau mengisi hari-hariku
aku telah meragu mengapa harus dirimu
Aku takkan bertahan
bila tak teryakinkan
sesungguhnya cintaku
memang hanya untukmu
Rio Febrian - Bukan Untukku

Lagu yang selalu dinyanyikan oleh Rico tiap kali sedang berdua dengan Mony. Hingga 15 tahun lamanya Mony tidak mengetahui bahwa lagu yang selama ini dinyanyikan oleh Rico untuk dirinya.

"Dari awal juga, aku selalu berkata 'akan selalu menyayangimu, hingga aku tak mampu lagi untuk bernafas dan memberikan dada ini untuk kau bersandar dalam keluh kesahmu' sekarang izinkan aku untuk bersandar kepadamu sebelum aku pulang," ujar Rico yang terbaring dengan lemah

"Kenapa gak pernah cerita kalo lu sakit sih?"
"Penting?"
"Iya, gue peduli sama lu"
"Sebagai teman?"

Mony terdiam untuk waktu yang cukup lama. "Bukan, untuk seseorang yang menurut gue lebih spesial dari seorang sahabat,"
Kali ini, untuk yang pertama kalinya Rico tertawa kecang. Tawa yang belum pernah dilihat oleh Mony sebelumnya. "Telat ya, kita telat untuk menyadarinya setelah sekian lama,"
Mony hanya menganggukan kepalanya sambil menahan air mata yang mulai terbendung.

Aku hanya ingin kau tahu
Besarnya cintaku
Tingginya khayalku bersamamu
Tuk lalui waktu yang tersisa kini
Di setiap hariku
Di sisa akhir nafas hidupku
Republik - Hanya Ingin Kau Tahu 

15/10/14

Tempat Paling Nyaman

Kutarik ganggang pintu berwarna kecoklatan tersebut, satu tarikan nafas panjang sebagai penguat tubuhku untuk melangkahkan kakinya ke dalam sebuah perpustakaan yang berada tepat di depan kelasku. Sebuah taman dengan kolam kecil yang menjadi pemisah jarak antara kelas yang sudah kutempati sejak kelas satu SMK.

Perpustakaan, aku paling tak suka dengan ruangan penuh debu dengan hamparan buku yang terbentang sepanjang mata. Selama tiga tahun aku sekolah, ini pertama kalinya aku berani melangkahkan kaki ke ruangan tersebut. "Sialan, kalo bukan karena pembuatan skripsi hasil prakerinku tidak ingin aku kesini selama hidupku," kelutusku dengan wajah tak bersahabat.

- satu jam kemudian -

"Ternyata tempat ini sangat gak buruk," ujarku dalam hati yang sambil asyik mencari bahan tambahan untuk skripsi. Kutarik kursi yang tak jauh darisana. Suasana hangat dan hembusan angin yang kencang membuat tubuh merasakan kenyaman yang tidak pernah dirasakan sebelumnya, meskipun banyak yang berlalu lalang dihadapanku, namun tak seorangpun berani mengucapkan kalimat bahkan sebuah kata dengan nada keras.

Setelah mendapati semua bahan yang diperlukan, aku beralih di sisi perpustakaan lainnya, ada beberapa komputer yang menjajar, tidak ada akses media sosial seperti facebook ataupun twitter yang dipasang. Semua yang diinginkan untuk informasi di internet bisa diakses dengan mudah.

"Sialan!" ujarku yang kali ini merasa menyesal tidak pernah ingin masuk ke dalam perpustakaan yang sudah canggih, bukan hanya dipedulikan soal kebutuhan buku dan informasi dari internet saja, melainkan perpustakaan sekolahnya juga sangat memperhatikan kebersihan dan kenyamanan dari ventilasi udara yang juga dibantu dengan beberapa AC yang ada di dalamnya.

"Ternyata, mencari ketenangan dengan angin yang membuat nyaman tak selalu ke taman ataupun pantai, perpustakaan sekolahku memiliki lebih dari itu," aku yang sambil bercerita dengan sumringah ke depan kawan-kawanku saat sudah di kelas.

Cerita ini diikutkan dalam tantangan menulis Kampus Fiksi #DeskripsiAngin.

08/10/14

Magic Tuhan

Pilu, Benci Memaafkan.

Sifat kasarmu selama ini telah membuat aku mulai merasa muak untuk memaafkan. Akan tetapi, hati yang terlalu lembut, selalu senantiasa memaafkan bahkan berharap lebih. "Datanglah ke orangtuaku, lalu meminta restu," tatapku kepadanya dengan penuh harap serta nafas panjang yang sudah dipersiapkan sejak tadi. "Ketuklah pintu rumahku, layaknya kamu mengetuk hatiku pertama kali,"

Dia masih saja diam, 30 menit kemudian dia baru bersuara. "Aku akan langsung melamarmu di hadapan orangtuamu," kali ini, aku yang diam seakan tidak percaya dengan ucapanya. Dia yang selama ini sangat membenci perintah, kini dia melakukan satu perintah dariku dengan kesunguhan. Mungkin tuhan telah mengetuk pintu hatinya dengan magic super.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku.

Di Laut Kau Perampok, Di Darat Kau Buaya

Perampok. I couldn’t believe he’d shoot me.

Memaafkan seseorang yang sangat kita cintai merupakan sebuah kewajaran. Akan tetapi, jatuh berulangkali kepada lubang yang sama tidak membuat harga diri menjadi lebih rendah dari seekor Keledai. Tertipu, teripu, dan teripu lagi.

"Aku terlalu terbuai dengan semua omong kosongnya," ujarku dengan penyesalan saat menyadari pria yang dulu pernah tidur bersamaku kini telah mencampakanku di depan wanita barunya. Kini aku merasa tidak lebih dari seorang gadis malang, oh bukan, aku bukan gadis lagi.


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

10/07/14

Sakit Tidak Terlupakan



Tema : Torn
Judul : Sakit Tidak Terlupakan

“Terima kasih untuk Anda yang sudah memberitahuku apa itu senyuman bahagia dan senyuman kekecewaan,” ujar seorang gadis yang menahan bendungan air mata saat seorang pria memutuskannya. Bukan perihal diputuskannya yang begitu saja, namun hubungan yang sudah di jalani selama lima tahun itulah yang membuat rasa sakit.

Gadis itu bernama Lira, mahasiswa tingkat dua fakultas Ilmu Komunikasi. “Dia memutuskan ku setelah aku memaafkan perselingkuhannya yang sudah ke-7 kalinya,” curhat Lira kepada sahabatnya di pojok perpustakaan.

“Pria seperti itu tak pantas kau tangisi, kau wanita baik dan hebat. Kau harusnya beruntung  Reno memutuskanmu, oh bukan memutuskan, melainkan mencampakan kamu di depan umum,” ujarnya Fhyra yang terus menguatkan hati Lira yang sedang rapuh.

Lira yang sedang tidak karuan hanya mampu menangis, menahan suara tangisan agar tidak menganggu mahasiswa lainnya. Tiba-tiba ia mengingat semua perubahan Reno sejak tiga tahun yang lalu, dimana ia pertama kali mencoba untuk berselingkuh dengan seorang janda. “Kasihan dia janda dengan anak dua, aku hanya sekedar membantu dia mengasuh anak-anaknya selagi dia kerja saja,” setidaknya itu yang dia ingat alasannya.

Dan perselingkuhan terakhir yang akhirnya mengkandaskan hubungan mereka. Reno telah meniduri seorang gadis yang usianya dua tahun dibawah Lira. Pertengkaran hebat mereka rasakan, hingga puncak-nya saat Reno mulai berani mencampakan Lira di depan umum.

Hingga beberapa bulan kemudian, Lira mendapatkan kabar bahwa wanita tersebut hamil dan Reno harus menikah dengannya. “Selamat atas penikahanmu,” bunyi SMS terakhir yang dikirimkan untuk pria yang sudah merobek hatinya hingga tidak mampu dibentuk lagi.

flash fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di facebook dan twitter @nulisbuku